foto-utama-img_2764.jpg
Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) mengultimatum paling lambat 10 November mendatang, Komandan Kodim (Dandim) 0209 Labuhanbatu Letkol (Inf) Azhar Muliyadi harus menjelaskan tuduhannya yang menyebut almarhum Wong I Seng alias Sandikan alias Kucai sebagai anggota Baperki, organisasi underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Komnas HAM akan mengambil tindakan strategis berikutnya jika Dandim tak membuat klarifikasi atas tuduhannya itu.

“Kami sudah menyurati Dandim Labuhanbatu agar segera memberikan penjelasan dan klarifikasi status veteran Sandikan. Kalau itu tak dilakukannya, maka kami akan melakukan tindakan tegas.

Banyak pilihan yang bisa kami lakukan,” kata Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Jhoni Simanjuntak kepada Global ketika dihubungi dari Medan, Kamis (18/10).

Komnas HAM menilai Dandim dalam suratnya Nomor R/062/VI/2006 tertanggal 22 Juni 2006 dan Nomor R/679/VII/2006 yang menuduh Sandikan anggota PKI, merupakan tindakan perampasan hak asasi seseorang. Sementara ketika Dandim Labuhanbatu Letkol (Inf) Azhar Muliyadi dikonfirmasi, dia mengaku telah menerima surat Komnas HAM itu. “Sudah saya terima surat itu, belum saya jawab, nanti ada waktunya saya jawab,” katanya.

Hasil penelusuran Global di Kabupaten Labuhanbatu, dari daftar bekas tahanan dan bekas narapidana G30 S/PKI model B1 sesuai Instruksi Mendagri Nomor 32/F, nama Wong I Seng tidak masuk di dalam daftar sebagaimana yang ditudingkan Letkol (Inf) Azhar Muliyadi. “Justru Wong I Seng itu terdaftar sebagai veteran. Untuk jadi veteran harus penelitian khusus (litsus), mana bisa orang yang terlibat organisasi PKI jadi veteran,” tegas mantan Dandim Labuhanbatu Letkol (Purn) FS Manalu.

Manalu mengungkapkan rasa kekecewaannya atas tindakan dan sikap Letkol (Inf) Azhar Muliyadi. “Jujur saja, jika seorang pernah terlibat, baik sebagai anggota atau simpatisan PKI, tidak mungkin bisa mendapatkan jabatan strategis di parpol, ormas,” tegasnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan, pihaknya juga telah menemukan bukti konkret bahwa di buku induk Badan Pembinaan Administrasi Veteran dan Cadangan (Babinmenvetcad) Kodam I Bukit Barisan, almarhum Wong I Seng terdaftar sebagai anggota veteran RI yang resmi. “Saya tak tahu alasan dia berani menyatakan almarhum sebagai anggota Baperki,” kata Manalu.

Sementara Ketua Legiun Veteran RI Cabang Labuhanbatu Mayor Inf Purn Makmun Wijaya kepada Global mengatakan, sebelum seorang Dandim bicara, tentunya harus tahu benar secara hukum. “Mari kita luruskan hukum dan bukan mencari-cari kesalahan dan menuding ataupun sampai memvonis orang anggota PKI,” katanya.

Dia pun mengaku terkejut saat mengetahui adanya tuduhan Dandim tersebut. “Saya terkejut dan heran ketika Wong I Seng alias Sandikan alias Kucai masih hidup tidak disebut Baperki, aneh sekali, setelah meninggal dunia, dia bukan dimakamkan atau dilayani dengan prosedur tata upacara militer. Malahan dituding negatif oleh Dandim 0209 Labuhanbatu tanpa data maupun bukti konkret,” paparnya.

Dia pun meminta pihak Kodam I/BB untuk proaktif menuntaskan masalah Dandim 0209 Labuhanbatu tersebut. “Bisa jadi kasus tudingan Dandim terhadap Wong I Seng itu tidak diketahui Pangdam I/BB. Saya menjadi saksi atas keabsahan status veteran Wong I seng tersebut,” tegas Makmun.

Teks Foto :
Baca Kliping.
Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Labuhanbatu Mayor (Purn) Makmun Wijaya (tengah) didampingi ahli waris Wong I Seng, Sujian (kiri) dan Ketua Asosiasi Independen Petani B Sura Sitakar (kanan) memperhatikan hasil kliping koran tentang tudingan semena-mena Dandim 0209 Labuhanbatu terhadap almarhum Wong I Seng. (Edi Sukarno |Rantauprapat)



Pangdam I/BB MayjenTNI J Suryo Prabowo akan memimpin upacara serahterima jabatan (Sertijab) Komandan Dentasemen Intelijen (Dandeninteldam) Kodam I/BB dan Komandan Batalyon Armed 2/105 di Lapangan Batalyon Armed 2/105 Jalan Besar Delitua, Rabu (24/10) ini.
Demikian Kepala Penerangan Kodam I/BB Letkol Inf Togar Panjaitan, Selasa (23/10). “Kegiatan serahterima jabatan ini merupakan mekanisme rutin dalam tubuh TNI. Kegiatan ini selalu dilaksanakan pimpinan TNIAD sehingga para perwira yang berada di jajaran TNIAD lebih profesional. Jadi selain merupakan kegiatan rutinitas ternyata kegiatan sertijab ini diharapkan pimpinan TNIAD memberikan penyegaran,” ujar Kepala Penerangan Kodam I BB Letnan Kolonel Inf Togar Panjaitan kepada Global.
Menurut Togar, serahterima jabatan dua perwira menengah yang berada di lingkungan Kodam I/BB telah menjadi agenda kegiatan rutin di jajaran TNIAD. Dengan maksud agar kesempatan sertijab ini dapat memberi penyegaran dan pengalaman maupun wawasan para perwira. ”Tentunya, mereka yang terpilih telah memiliki prestasi, dedikasi dan loyalitas yang dapat dipertanggung jawabkan,” katanya.
Adapun dua perwira yang bakal disertijabkan yakni untuk Dandeninteldam dari Letkol Czi Harry Dolli Hutabarat digantikan Letkol Kav Asep Ridwan yang sebelumnya tercatat sebagai Pamen di Pusen Armed Cimahi Bandung. Dan jabatan Danyon Armed 2/105 dari Letkol Arm Anton Irianto Popang kepada Letkol Arm Budi Suharto yang sebelumnya menjabat sebagai Pamen di Pusdikkav Bandung.
Sedangkan pejabat lama yakni Letkol Czi Harry Doli Hutabarat mendapat promosi sebagai Kasi Intel Korem 032 Wirabraja di Padang dan Letkol Arm Anton Irianto Popang di promosi sebagai Perwira Bantuan Madya Administrasi Staf Intel Kodam I/BB.

Edi Sukarno | Medan

Oleh: edisukarno | Oktober 26, 2007

Dandim Labuhanbatu Harus Beri Klarifikasi


dahlan-bukhari.jpg
Terkait tuduhan Komandan Kodim (Dandim) 0209 Labuhanbatu Letkol Inf Azhar Muliyadi dengan menyebut almarhum Wong I Seng alias Sandikan yang seorang veteran sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), anggota DPRD Labuhanbatu Dahlan Bukhari kepada wartawan di Medan, Minggu (21/10) meminta Dandim secara jantan memberi klarifikasi.

“Saya yakin Dandim 0209 Labuhanbatu itu profesional, tidak mungkin dia tidak bisa memberikan klarifikasi pernyataannya kepada pihak keluarga veteran itu. Jikalau tidak mempunyai bukti dan dasar hukum, tentunya Dandim telah diartikan menyerang secara langsung baik secara pribadi dan secara tidak langsung telah menghina veteran yang juga terdaftar sebagai pahlawan kemerdekaan RI,” ungkap Dahlan.

Dia pun mengaku terperanjat dan heran mengapa tudingan yang tidak dilengkapi bukti-bukti itu harus terlontar dari mulut seorang perwira yang cukup profesional. “Jika tudingan itu tidak ada bukti dan dasar hukum yang jelas, maka permasalahan ini akan kita bawa ke dalam rapat dewan,” ujarnya seraya mengatakan dirinya akan mengumpulkan bukti-bukti yang konkret.

Sebelumnya, anak sulung almarhum Wong I Seng alias Sandikan, Sujian kepada wartawan telah menunjukan dokumen-dokumen asli di mana dalam surat atau dokumen yang ditujukan itu telah menerangkan dengan jelas bahwa orangtuanya resmi terdaftar sebagai veteran dengan nomor pokok veteran (NPV) 2.038.282 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor Skep/573/M/X/1983 tentang pengakuan, pengesahan dan penganugerahan gelar kehormatan sebagai veteran pejuang kemerdekaan RI.

Sementara itu, Dandim 0209 Labuhanbatu ketika ditanyai wartawan beberapa waktu lalu soal kapan keluarga almarhum diberikan klarifikasi tentang tuduhannya itu, Letkol Inf Azhar Muliyadi menjawab bahwa semua jawaban telah ia serahkan ke satuan atas. Dan dirinya menyatakan tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan lagi.

Edi Sukarno>>> Medan

Oleh: edisukarno | Oktober 26, 2007

Veteran Dituding PKI, DPD Sumut Angkat Bicara



Tuduhan Dandim 0209 Labuhanbatu terhadap pahlawan kemerdekaan RI Sandikan alias Wong I Seng alias Kucai sebagai anggota organisasi Baperki (underbow PKI ), mendapat sorotan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) utusan Sumut, Parlindungan Purba SH.

Menurut Parlindungan, selaku anggota DPD, dia turut prihatin kepada orang tua Sujian yang dituding tanpa bukti oleh Dandim 0209 Labuhanbatu itu. Sebagai anggota DPD, Parlindungan merasa terpanggil untuk membantu karena kasus tudingan itu menyangkut Hak Azasi Manusia (HAM) dan berdampak terhadap kehidupan sosial keluarga mendiang korban yang juga terdaftar sebagai anggota Legiun Veteran Republik Indonesia.

Dia mempertanyakan keanehan surat yang dibuat Dandim 0209 Labuhanbatu ke pihak Korem 022 Pantai Timur itu. Menurutnya tak lazim, seorang Dandim berani menerbitkan surat yang bertentangan dengan surat Dandim sebelumnya, yang menyatakan Sandikan tak terlibat PKI. Danrem Pantai Timur juga ada menerbitkan surat serupa yang menyatakan Sandikan tidak terlibat organisasi PKI.

Dia pun meminta agar Dandim 0209 Labuhan Letkol Inf Azhar Muliyadi secara ksatria memberi klarifikasi sesuai permintaan Komnas HAM. Dia juga meminta keluarga korban untuk tetap bersabar dan terus berjuang. “Ingat saja, cepat atau lambat kebenaran pasti terungkap dan jika terbukti bersalah Dandim 0209 Labuhanbatu harus berani mempertanggungjawabkan atas pernyataannya yang dilontarkan tersebut,” tandas Parlindungan, kemarin kepada Global.

Edi Sukarno |Medan


sujian.jpg
Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) saat ini sedang melakukan klarifikasi terhadap surat Komandan Kodim 0209 Labuhan Batu Letkol (Inf) Azhar Muliyadi yang isinya menuduh seorang veteran Wong I Seng alias Sandikan alias Kucai terlibat dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Komnas HAM telah melayangkan surat meminta klarifikasi dari oknum Dandim bersangkutan.

“Kami sudah menyurati Dandim meminta klarifikasi masalah ini. Surat Dandim yang menuduh Wong I Seng terlibat PKI tanpa proses peradilan itu merupakan perampasan hak asasi manusia,” kata Komisioner Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Joni Simanjuntak ketika dihubungi dari Medan, Selasa (9/10).

Atas dasar itu, pihaknya berharap Dandim memberikan klarifikasi secepatnya. “Dalam surat klarifikasi, kami mempertanyakan apa dasar surat tuduhan itu, apalagi dokumen yang kami dapatkan tuduhan itu malah muncul setelah Wong I Seng meninggal dunia,” kata Joni.

Sebelumnya, Sujian selaku ahli waris dari Wong I Seng melaporkan Dandim tersebut ke Komnas HAM, karena ayahnya dituduh sebagai anggota Baperki (Badan Permusyawaratan Kemasyarakatan Indonesia), sayap organisasi PKI. “Saya tak tahu apa alasan pihak Kodim menuduh ayah saya PKI. Sudah beberapa kali saya pertanyakan surat itu, namun tak ada jawaban dari pihak Kodim,” kata Sujian dalam keterangannya kepada wartawan.

Disebutkan Sujian, semasa hidup ayahnya dikenal luas telah mengabdi dan aktif sebagai anggota veteran. “Entah mengapa, sepeninggalan ayah saya kami selaku ahli waris dan anak dari Wong I Seng dicekoki dengan kata orang tua saya itu adalah anggota Baperki. Ini jelas sangat tidak etis. Jangankan dimakamkan ke TMP, permintaan tata upacara militer yang diharapkan pihak keluarga tidak dilaksanakan. Malahan orangtua saya disebut- sebut anggota PKI,” bebernya.

Sujian telah pula minta klarifikasi ke Korem 022 Pantai Timur, namun belum mendapat jawaban pasti. “Tindakan oknum tersebut bisa mencoreng marwah TNI. Saya berharap perhatian Pangdam I/BB,” katanya.

Edi Sukarno|Medan



Sujian alias Acan selaku ahli waris dan juga anak dari veteran Wong I Seng alias Sandikan alias Kucai melaporkan Komandan Kodim 0209 Labuhanbatu di Rantau Parapat Letkol Inf Azhar Muliyadi ke Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM).

Langkah ini terpaksa dilakukannya karena Dandim menuduh ayahnya (Wong I Seng) sebagai anggota Baperki yang merupakan underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). “Surat Nomor R/062/VI/2006 tertanggal 22 Juni 2006 dan Nomor R/679/VII/2006 yang ditandatangani Dandim Letkol (Inf) Azhar Muliyadi menuduh ayah saya PKI, sebagai anggota Baperki. Surat itu saya terima setelah orangtua saya meninggal pada 7 Mei 2006. Saya tak tahu apa alasan pihak Kodim menuduh ayah saya PKI. Sudah beberapakali saya pertanyakan surat itu, namun tak ada jawaban dari pihak Kodim,” kata Sujian kepada Global, Senin (8/10) di Medan.

Sujian mengaku sangat resah atas surat Dandim itu. Apalagi pihak Kodim tak pernah memberi jawaban apa alasan surat tuduhan itu dikeluarkan. “Saya merasa surat tuduhan ini pembunuhan karakter, pencemaran nama baik dan perampasan hak politik saya dan keluarga saya,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen-dokumen asli yang ditunjukkan Sujian kepada wartawan, Wong I Seng resmi terdaftar sebagai veteran dengan nomor pokok veteran (NPV) 2.038.282 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor Skep/573/M/X/1983 tentang pengakuan, pengesahan dan penganugrahan gelar kehormatan sebagai veteran pejuang kemerdekaan RI. SK Pengangkatan Wong I Seng itu ditandatangani Menteri Pertahanan Poniman. Wong I Seng juga mendapat sejumlah penghargaan dari Menteri Pertahanan Djuanda pada 1958 sebagai prajuri TNI Lama non NRP satyalantjana peristiwa aksi militer kesatu dan kedua.

Semantara AD Handoko selaku pengacara Sujian mengungkap, rasa kekesalannya dengan adanya surat Dandim yang menuduh orang tua kliennya sebagai anggota Baperki. “Kami melaporkan kasus ini ke Komnas HAM karena Surat Dandim tersebut berpotensi merampas hak seorang warga negara,” katanya.

Dandim Labuhan Batu Azhar Muliyadi mengakui adanya surat tuduhan yang ditandatanganinya yang menyatakan Wong I Seng sebagai anggota Baperki, organisasi sayap PKI. “Benar saya buat surat itu. Kalau ada hal-hal yang ingin dikonfirmasi sampaikan saja melalui piket atau datang saja langsung ke Rantauparapat (Markas Kodim),” katanya kepada Global melalui telepon selularnya.

Oleh: edisukarno | Oktober 6, 2007

Uji Kesiapan Pasukan


031007_ujikesiapan.jpgAtas saran Panglima Kodam I/ BB, Asisten Operasi Kasdam I/BB Letkol Inf Binarko Sugihantyo (ketiga dari kanan) didampingi Dan Yon Kavaleri Letnan Kolonel Kav. Drs Yotanabey Aryantho Mulkan MDS (pertama kanan), Jumat(5/10) pukul 22.45 Wib malam, memeriksa isi ransel Pasukan Kavaleri dan Pasukan Armed 2/105 dalam kegiatan menguji kesiapan pasukan yang terdiri dari satuan setingkat kompi pasukan di kelima Batalyon yang berada di Kodam.
Kelima batalyon ini ditempatkan ke Yon Arhanudse 11/ BS di RRI, Yon Raider 100 di markas Kodam, Yon Armed dan Yon Kav di Bandara Polonia dan Yon Zipur I/DD di Pelabuhan Belawan.
Edi Sukarno | Global

Oleh: edisukarno | Oktober 6, 2007

Djoko Suyanto: HUT TNI Momentum Mawas Diri


Peringatan HUT ke-62 TNI yang diperingati setiap tahun merupakan momentum mawas diri dan menumbuhkan kembali semangat pengabdian baru, guna menghadapi tugas yang semakin berat dan kompleks di masa mendatang.

Hal itu ditegaskan Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Pangdam I/BB Mayjen TNI J Suryo Prabowo pada upacara peringatan HUT ke-62 TNI di lapangan Avron Kelapa Sawit Lanud Medan, Jumat (5/10) pagi.

Dikatakannya, munculnya kembali gerakan RMS Ambon, OPM Papua dan berkibarnya bendera GAM sebagai atribut partai lokal, termasuk penurunan bendera merah putih yang seharusnya berkibar dalam peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di NAD, merupakan bukti nyata pengingkaran terhadap komitmen kebangsaan yang telah dibangun founding fathers.

Seharusnya hal itu tidak akan terjadi, bila seluruh komponen bangsa Indonesia menyadari tujuan nasional sebagaimana yang telah diamanatkan UUD 1945. “Hal itu akan terwujud bila bangsa bersatu dalam tekad dan kebersamaannya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Dikatakannya, TNI sepenuhnya menyadari tanggung jawab yang dipikul sebagai garda bangsa dan negara Indonesia yang memiliki nilai geostrategis, geopolitik dalam percaturan global, bukanlah tugas ringan.

Pihak asing akan selalu berusaha mengancam kepentingan nasional, antara lain dalam upaya penguasaan wilayah-wilayah terluar, illegal logging, illegal fishing dan illegal mining, teror atau cara-cara lain melalui bidang ekonomi politik dan sosial budaya. “Sedangkan ancaman dalam negeri diperkirakan TNI akan menghadapi aksi kelompok separatis, konflik horizontal dan vertikal, serta bencana lain yang bukan mustahil muncul setiap saat,” tandasnya.

Sedangkan dalam menjamin terciptanya perdamaian dunia sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945, juga telah mampu memperlihatkan partisipasi prajurit TNI melaksanakan misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Peringatan HUT ke-62 TNI yang berlangsung di lapangan Avron Kelapa Sawit Lanud Medan berlangsung secara sederhana, ditutup dengan atraksi terjun payung.

Hadir dalam upacara tersebut para petinggi TNI, di antaranya Danlantamal I Belawan Laksma TNI Sadiman SE, Pangkosek Hanudnas III Marsma TNI I Wayan Suwitra, Dan Lanud Medan Kol Pnb. A Dwi Putranto dan Persit KCK PD-I/BB, serta para petinggi Kodam I/BB, Lantamal I Belawan, dan Lanud Medan. Juga hadir Muspida Tingkat I Provsu Gubsu Rudolf M Pardede, Ketua DPRD Sumut Abdul Wahab Dalimunthe, Poldasu dan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan undangan lainnya.

Edi Sukarno >> Global | Medan

Foto:
Pangdam I/ BB Mayjen TNI J Suryo Prabowo(tengah) didampingi Pangkosekhanudnas III Marsekal Pertama I Wayan Suwitra dan Dan Lantamal I Belawan Sadiman bersalaman di Lanud Medan


danlanud.jpg
Edi Sukarno, Medan
TNI Angkatan Udara memiliki tugas pokok menjaga pertahanan matra udara secara nasional. Untuk melaksanakan tugas ini, perlu peralatan berteknologi canggih yang biayanya tidak murah. ”Angkatan Udara berbeda dengan angkatan lain,” ucap Dan Lanud Medan Kolonel Pnb AD Putranto.
Perwira menengah yang dikenal sangat tegas ini, begitu bersahaja saat menerima Global di kediamannya di kompleks Lanud Polonia Medan. ”Saat bertugas kita harus tegas. Di luar tugas, kita bersahaja dan bersikap lebih bersahabat,” tutur Putranto mengawali pembicaraan. Mantan Komandan Wings Ops TNI AU ini enggan bicara soal politik, tapi sangat senang membahas masalah kedirgantaraan. ”Dirgantara itu dunia saya,” ujar alumni Akabri 1983 ini.

Anda mengatakan AU berbeda dengan angkatan lain. Di mana letak perbedaannya?
Angkatan Udara itu matra yang mempunyai ciri khusus tentang keudaraan. Filosofinya adalah alat yang diawaki. Dalam angkatan lain orang yang dipersenjatai, sedangkan di AU justru senjata yang diawaki. Insan dirgantara dituntut profesional karena mengawaki alutsista yang nilainya tidak murah. Kita yang mengawaki tentunya harus mempunyai ciri-ciri kedirgantaraan yang bisa mengikuti teknologi sesuai perkembangan zaman.
Awak senjata mutlak harus memiliki kesehatan, mulai fisik hingga psikologi. Ada seseorang yang fisiknya mendukung, tapi tes psikologi orang itu gampang stress ataupun bertindaknya tidak tepat, cara memutuskan sesuatu juga ragu-ragu. Orang yang fisiknya bagus tapi secara psikologi kurang bagus, sangat berbahaya jika mengawaki alutsista. Siapa pun yang terpilih dalam Angkatan Udara, tentunya harus memiliki fisik bagus, psikologi bagus, mengikuti perkembangan teknologi dan memahami matra kedirgantaraan, sehingga kualitas AU ke depan lebih baik.

Apa prinsif hidup yang Anda tanamkan kepada bawahan?
Prinsif hidup itu semua tergantung kita. Kita mau berhasil atau tidak, terserah kita. Kalau mau berhasil, mestinya harus dipersiapkan sejak dini, kita harus bijak. Keberhasilan dengan mengandalkan seseorang itu tidak bijak. Kalau pun ia berhasil, itu hanya sesaat. Tapi, berhasil yang diawali dengan persiapan matang, Insya Allah keberhasilan yang didapat akan langgeng. Kalau keberhasilan karena orang atau dikatrol, keberhasilan yang didapat itu tidak langgeng. Dan, untuk bisa berhasil, kita harus bisa berprilaku baik. Prinsif hidup yang selalu saya tanamkan kepada anggota saya yakni berbuat yang terbaik. Artinya, berbuat yang terbaik secara intelektual, berbuat terbaik secara emosional dan berbuat terbaik secara spritual.
Selain itu, jangan pernah mengeluh. Sebagai hamba Tuhan yang baik, kita harus memiliki pondasi agama yang kuat agar jerih payah kita diberkati. Setelah kita berusaha, kita memohon kepada Yang Maha Kuasa, pasti ia akan mengabulkannya. Selain tidak mengeluh, kita harus melakukan yang terbaik, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kalau kita masuk Angkatan Udara, kita juga harus mengetahui persis mana boleh dan juga mana yang tidak boleh. Mana yang membuat kita menjadi maju, mana pula yang tidak. Semua ini tergantung kepribadian kita. Tidak mungkin sesuatu bisa diraih tanpa berbuat yang terbaik. Kita harus profesional betul, kita persiapkan sesuai tugas, wewenang. Aturan mainnya juga yang harus dikuasai dengan betul.

Masuk AU lebih sulit dari angkatan lain. Benarkah?
Saya kira tidak. Selama 25 tahun di AU tidak ada kesan bahwa lulusan pesantren atau madrasah tidak diterima. Semua lulusan diberi kesempatan yang sama, tidak dibeda-bedakan. Yang menentukan mereka lulus atau tidak hanya hasil tes mereka. Kalau nilainya C kan tidak mungkin diluluskan jika masih ada yang bernilai B. Contohnya tes Mental Idiologi. Tes ini menguji semangat nasionalisme, jiwa kebangsaan yang mengacu kepada UUD 1945 dan Pancasila. Secara umum untuk kepentingan kebangsaan dan untuk kepentingan kenegaraan demi tegaknya Negara Kesatuan RI. Ada yang pengetahuan kebangsaannya sangat dangkal, bagaimana kalau dia menjadi tentara. Tentu orang ini kalau masuk tentara bisa menjadi tentara yang bermasalah, karena mungkin tahunya cuma bisa menembak saja. Dengan gagah dan bangga memakai atribut tentara, dan di lapangan sering main pukul. Ini sudah nggak benar.

Bagaimana sistem tes di AU?
Masuk AU tidak ada KKN. Kalau kedapatan lulus dengan cara KKN, langsung dipecat. Semua tes dilakukan sesuai tahapan-tahapan yang telah ditetapkan. Saya baru tiga bulan lalu melaksanakan penerimaan. Saya ranking mereka sesuai dengan hasil tesnya. Nggak ada alasan orang dalam harus prioritas atau saudara dan keluarga lebih diutamakan, tidak bisa begitu. Silakan diutamakan atau diberi prioritas apabila memang dalam limit. Sudah saatnya kita harus bersih dari KKN.

Untuk mengembangkan AU, apa yang Anda harapkan?
Sesorang pasti mempunyai cita-cita. Cita-cita hendaknya jangan timbul sesaat. Cita-cita mesti timbul sejak awal. Jika bercita-cita menjadi Air Force, tentunya mempersiapkan diri sejak jauh hari. AU selalu memberi kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk dididik menjadi insan dirgantara. Memang, kadang-kadang kita masih sulit memenuhi kuota penerimaan. Sebab, ada syarat khusus yang tidak tercapai. Banyak sekali anak muda yang terbentur dengan kondisi fisik atau psikologi yang kurang baik. Saya yakin pemuda yang mempersiapkan dirinya, akan berhasil masuk AU. Kita sih mengharapkan yang pintar-pintar dan pandai-pandai dapat tertarik untuk menjadi prajurit Angkatan Udara.

Sejak kapan Anda berusaha mandiri?
Kebetulah sejak berumur 1 tahun, saya sudah ikut nenek. Bersamaan itu pula, saya dituntut harus mandiri. Terus terang, saat di kampung saya tidak tahu apa itu Angkatan Udara, apa itu Akabri. Saya saat itu hanya bercita-cita mudah-mudahan hari depan saya bisa mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Saya pun berupaya mandiri dan berbuat untuk tidak aneh-aneh. Kalau di kampung para pemudanya suka begadang, saya lebih banyak di rumah. Setelah lulus SMA, dengan rasa kemandirian, saya langsung ke Jakarta. Yang saya cari di Jakarta adalah sekolah yang tidak bayar. Karena dari kecil saya tidak mau merepotkan orang, saya usaha, bagaimana tidak merepotkan orangtua. Cita-cita saya di Jakarta saat itu, saya mau sekolah yang tidak bayar. Begitu di Jakarta, ada penerimaan Akabri. Saya pun ikut. Karena saya orang kampung, saya tidak ada kenalan, tidak ada segala macam dan tidak ada KKN. Saya persiapkan betul semuanya. Sejak saya daftar, setiap pagi saya lari, saya jaga betul kondisi saya, dan ternyata tidak ada halangan berarti. Sampai menjadi taruna, saya terus mandiridan berusaha berbuat yang terbaik.
Karena prinsip saya adalah berbuat baik bukan untuk siapa-siapa, untuk kita juga. Jangan mengharapkan penghargaan dari orang lain, apabila kita belum melakukan yang terbaik. Kepada siapa pun kita harus berbuat baik. Biarpun kepada orang jahat, kita juga harus berbuat baik. Dengan berbuat yang terbaik otomatis orang lain akan menghargai kita. Selain itu, kita harus bersyukur. Di tempatkan di tempat nggak enak kita syukuri, tempat enak apalagi harus juga kita syukuri. Di sini (Lanud Medan-red), saya berusaha menekan kepada anggota untuk berbuat yang terbaik. Untuk itu, jangan mengeluh, jika mengeluh maka hasil kinerjanya tidak maksimal.

Apa motto yang Anda pegang?
Bagi saya, sahabat dan teman itu modal hidup dalam berbagai segi. Dengan berbuat baik, kita tentu akan banyak teman. Kadang-kadang orang kan kurang ajar, sudah berbuat baik kok malah dimusuhi. Meski begitu, kita jangan mengeluh tapi tetap berbuat baik kepadanya. Mudah-mudahan ia menyadari dan menjadi sahabat bagi kita. Banyak sahabat, tentu banyak yang mendukung kita agar berhasil. Tidak hanya itu, apabila kita dipanggil Maha Kuasa, mudah-mudahan banyak yang mendoakan. Memiliki banyak sahabat, akan langgeng. Terlebih kalau sahabat kita punya kemampuan pada sesuatu, dan kita butuh tentu jelas bisa minta tolong.
Mencari sahabat itu sulit. Mencari satu sahabat dengan mencari seribu musuh, tentunya lebih gampang mencari seribu musuh. Atas dasar itu, kita harus mencari teman sebanyak-banyaknya.

Selama 25 tahun dinas, apa yang paling berkesan?
Saya kira, hampir rata-rata penerbang paling berkesan saat diberi kesempatan membawa pesawat sendiri. Kebetulan, saat saya berpangkat Letnan Satu, saya diberi kesempatan menjabat sebagai Kapten Hercules dan diperintahkan menerbangkannya. Padahal, sebelumnya Kapten Hercules rata-rata dipegang yang berpangkat Mayor. Prinsipnya, pokok kita berbuat terbaik dan maksimal, pasti pimpinan akan memberikan. Berbuat terbaik bukan untuk mencari sesuatu, tetapi berbuatlah yang terbaik pasti otomatis sesuatu yang diinginkan akan didapat. Untuk meraih apa yang diinginkan harus berbuat yang terbaik, disiplin, semangat, menguasai ilmunya dan profesional. Kalau pun jalannya mesti bersaing, maka bersainglah dengan sehat. Bukan bersaing untuk saling sikut sana, sikut sini.

Pernahkah Anda bertugas di daerah konflik?
Kalau terlibat langsung belum pernah. Namun, saat konflik Timtim lagi gencar-gencarnya, saya kebetulan jadi Komandan Skadron 32 di Malang. Saya harus tahu persis apa yang terjadi, dan apa yang harus dilakukan anak buah. Sehingga penerbangan pertama ke sana (Timtim), saya bawa kaptennya berangkat. Saya beritahu bahwa dalam kondisi seperti ini, pesawat yang diawaki harus dengan kemiringan begini. Terbang malam mengintai musuh harus begini. Saya perintahkan agar melakukan semua sudut kemiringan yang diizinkan dalam penerbangan militer.

Antara panggilan tugas dan kepentingan keluarga, manakah yang Anda dulukan?
Setiap kepentingan itu berbeda. Saya mengutamakan kedua-duanya. Namun, bila terbentur, saya mengutamakan panggilan tugas. Kita harus beri pengertian kepada istri dan anak-anak agar menyadari untuk sama-sama mendukung. Saya utamakan tugas, namun bukan mengabaikan keluarga. Tugas kita utamakan, akan tetapi keluarga juga harus kita perhatikan. Dan berilah suatu nilai tambah yang lebih kepada keluarga sehingga tugas tetap jalan, keluarga tetap harmonis.

Kolonel Penerbang A Dwi Putranto
Kelahiran Pemalang, 27 Agustus 1959
Istri : Diani Siswanti
Anak : Fresti Restuning S
Priasto R.Adipurwanto
Prihantarto Nursatya Adi Purawanto
Pyrameycha Nurochmannaifa.H
Riwayat Jabatan :
PERWIRA DP MAKOKOPATDARA,1983
PERWIRA PENERBANG SKADRON 32 WOPS 001,1984
PERWIRA PENERBANG SKADRON UDARA 32,1985
KOMANDAN FLIGHT “B” SKADRON UDARA 32,1990
KOMANDAN FLIGHT “A” SKADRON UDARA 32,1993
PAPOK INSTRUK PENERBANG LANUD ADI SUCIPTO,1994
DAN FLIGHT DIK ‘B’ SKADIK 102 LANUD ADI SUCIPTO, 1994
DAN FLIGHT DIK ‘A’ SKADIK 101 LANUD ADI SUCIPTO,1995
KADIS OPS SKADIK 101 LANUD ADI SUCIPTO,1995
KADIS OPS SKADRON UDARA 32 LANUD ABD SALEH,1996
KASI OPSLAT DISOPS LANUD ABD SALEH,1996
DAN SKADRON UDARA 32 LANUD ABD SALEH,1998
PABANDYA LAT SOPS KOOPSAU II, 2000
KABINPOTDIRGA KOOPSAU II,2001
KA BADAN UJI KOOPSAU I, 2002
KADIS OPS LANUD ABD SALEH,2003
DAN WINGS II LANUD ABD SALEH, 2005
DAN LANUD MEDAN, 2007

RIWAYAT PENDIDIKAN MILITER
AKABRI UDARA 1983
SEKOLAH PENERBANG,1983
SEKKAU ANGKATAN KE-52,1992
SEKOLAH INSTRUKTUR PENERBANG 1994
DIK KUAL INSTRUKTUR PENERBANG C-130,1995
SESKOAU ANGKATAN KE-33,1997
SUSGATI SOSPOL, 1998
SESKO TNI ANGKATAN KE-33,2003

TANDA KEHORMATAN
SATYA LENCANA KESETIAAN VIII
SATYA LENCANA KESETIAAN XVI
SATYA LENCANA DWIYA SISTHA
SATYA LENCANA SEROJA


danyon.jpg
EDI SUKARNO | MEDAN
Dalam memimpin pasukan militer sangat tidak mudah. Seorang komandan pasukan harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Komandan juga mesti senantiasa menjalankan dan menanamkan sumpah prajurit serta amanah sebagai tentara. “Prajurit sejati selalu memegang teguh sumpah prajurit,” ucap Komandan Batalyon Kavaleri Serbu (Yonkavser)-6 Medan Letkol Kav Drs Yotanabey Aryantho Mulkan MDS.

Perwira yang dikenal tegas ini, begitu ramah saat menerima Global di kediamannya di Asrama Yonkavser-6 Medan. “Untuk hal-hal yang prinsip kita harus tegas,” sebut Yotanabey mengawali pembicaraan. Mantan Dandenkavser Paspampres ini enggan bicara soal politik, namun sangat senang membahas soal militer. “Hidup saya di militer. Saya juga besar dari lingkungan keluarga TNI,” ujar alumni Akmil 1989 ini.

Sebagai komandan, apa motto yang Anda pegang?
Saya berpikir sederhana, tapi terencana. Setiap yang terencana selalu memiliki target. Dan saya dididik harus ada target, ada sasaran. Tapi, begitu ada sasaran, kita harus berpikir ke belakang dan mempersiapkan berbagai rencana. Manakala rencana sudah valid, kita harus konsisten. Namun, kalau rencana tidak valid, kita ubah. Kita harus mempersiapkan rencana alternatif.
Contohnya, upacara. Rencananya upacara digelar di lapangan. Ternyata, begitu mau upacara, turun hujan.
Rencana ini tentu diubah karena rencana itu dibuat untuk tidak hujan. Begitu hujan, kita pakai rencana alternatif, yaitu upacara dalam ruangan. Kalau kita tidak berencana, kita tidak punya patokan. Bisa dua kali kerja dan mubazir.
Seharusnya kerugian cuma 50 persen, tapi karena tidak terencana malah bisa rugi 100 persen. Kemudian sasaran. Sasaran bukan harus menjadi target dicapai. Bisa saja angan-angan, istilahnya konsep anganangan. Misalnya, saya berangan-angan menjadi jenderal, tentu juga harus ada hitung-hitungan.
Tahun 1993 saya lettu, 1995 dapat kapten, 2000 naik jadi Mayor dan 2004 Letkol. Kalau angan-angan saya, 2009 atau 2010 maunya dapat Kolonel. Itu rencana-rencana saya sendiri. Supaya rencana ini bisa tercapai, harus ada action yang dibuat secara simpel dan sederhana. Kita nggak bisa hanya wait and see, menunggu begitu saja. Kita harus berbuat dengan prestasi-prestasi. Intinya, motto saya adalah berpikir sederhana, terencana dan diperhitungkan.

Jika rencana utama dan rencana alternatif tidak jalan, apa yang Anda lakukan?
Dalam strategi militer, ada yang namanya Kirpat (berpikir cepat). Manakala semua rencana gagal, kita harus cari solusi yang tidak keluar dari pokok permasalahan. Seorang komandan harus berpikir dan bertindak cepat mengatasi masalah itu, tapi dengan tidak melahirkan masalah baru.
Kirpat ini tentunya disertai dengan kalkulasi-kalkulasi. Misalnya, ada informasi tentang sesuatu yang
diberikan bawahan kepada atasannya, si komandan harus berkalkulasi. Sebelum mengambil keputusan, dilihat dulu dasar informasi itu. Setelah diperhitungkan, ternyata kalau pakai cara A mengatasinya akan mengalami kerugian 60 persen dan untungnya hanya 40 persen, tapi kalau rencana B untung 60 persen kerugiannya 40 persen. Secara logika, tentu cara B yang harus dipakai karena keuntungannya lebih besar. Tapi, di lapangan dalam sistem komando, ada semacam pertimbangan intuisi yang dimiliki seorang komandan. Belum tentu cara yang menguntungkan dipakai, bisa jadi cara yang menurut logika merugikan itu yang diambil menjadi keputusan. Intuisi itu istilahnya “Suara Tuhan”. Komandan bisa saja mengambil suatu keputusan dengan intuisi. Ada beberapa hal dalam mengedepankan intuisi, apalagi secara logika hal ini sangat lemah. Tapi, intuisi ini kerap muncul hanya dengan keikhlasan dan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Apa Anda pernah menggunakan intuisi saat di lapangan?
Pernah. Saat saya menjabat Dandenkavser Paspampres. Waktu itu saya lagi mengawal Presiden Megawati yang meninjau banjir di Jakarta pada 2003 lalu. Saya mempersiapkan pengamanan dan rute-rute yang akan dilalui Ibu Mega. Setelah saya cek semuanya, menurut saya sudah aman. Sebelum Ibu Mega datang, Pangdam Jaya dan Kasum TNI mempertanyakan tentang rencana pengamanan. Tak lama setelah itu, Panglima TNI bersama Ibu Mega, Menkopolkam dan rombongan pun datang. Saat itu ada dua perahu karet yang sudah disiapkan.
Perahu pertama pengawal, perahu kedua rombongan Presiden. Saya saat itu berada di perahu kedua.
Saat di perjalanan, saya melihat seekor ular besar yang menggantung menghalangi jalan perahu. Perahu pengaman satu sudah jauh duluan. Saya hubungi perahu satu, dan ternyata mereka tahu, tapi saya minta untuk diam saja. Kami pura-pura nggak ada yang tahu. Karena saya berdiri di depan, kebetulan memegang kayu dayung, saya berpikir cepat dan akan bertindak gambling. Dalam pikiran saya, pertama ular harus saya pukul, mudah-mudahan tidak jatuh ke perahu, tapi
jatuh ke air. Kedua, kalau saya berteriak bisa membuat seisi perahu panik, Ibu Mega bisa loncat atau tergigit, kan bisa jadi heboh nasional. Akhirnya, dengan “intuisi” atau bisa juga disebut “feeling”, saya pukul ular itu, kena dan jatuh ke air. Panglima TNI dan Danpaspampres tahu dan menghampiri saya, mereka bilang tindakan saya sudah tepat.
Seberapa besar Anda menggunakan Feeling dalam tugas?
Feeling tidak sama dengan perhitungan. Namun, feeling jarang meleset. Sedangkan perhitungan bisa sampai 95% dan itu berdasarkan kalkulasi-kalkulasi. Feeling bisa muncul dengan keikhlasan dan tanggung jawab. Feeling itu tidak bisa dipelajari atau dicari. Ia muncul begitu saja. Feeling adalah salah satu karunia dari Yang Maha Kuasa, dan kita tidak bisa memastikan apakah feeling itu akan datang terus. Hanya keikhlasan dan tanggung jawab yang bisa memiculahirnya feeling.
Bagaimana cara Anda menjaga citra Batalyon?
Saya selalu bilang sama anggota supaya menjaga etalase sesuai dengan keadaan. Adakala menurut kita bagus, tapi ternyata tidak dilirik orang karena tidak sesuai dengan lokasi. Padahal kita telah berbuat baik, tapi belum menurut orang lain. Karena itulah, etalase yang perlu ditanamkan dalam setiap diri anggota adalah kejujuran, disiplin dan tanggung jawab.
Tanpa kejujuran, disiplin dan tanggung jawab, semuanya akan tidak bagus. Misal, kalau bungkusnya bagus tapi isi tidak sesuai dengan bungkus, Maka orang akan merasa tertipu. Untuk itu sudah tentu, Isi dan bungkusannya harus sesuai supaya bisa dilirik orang. Dan tentu kita harus membuat manajemen diri yang baik dengan kejujuran, disiplin dan tanggung jawab. Kalaulah kita berpura-pura baik, lambat laun pasti ketahuan juga.
Antara panggilan tugas dan kepentingan keluarga, manakah yang Anda dulukan? Setiap kepentingan itu berbeda. Dalam hal ini, saya kembalikan lagi kepada niat awal saya. Saya mengutamakan dari awal, artinya saya masuk tentara baru berkeluarga. Keluarga datangnya setelah saya punya komitmen masuk militer, karena itu keluarga harus siap menerima komitmen ini. Bila ada kepentingan tugas dan keluarga yang waktunya bersamaan, saya mengutamakan kepentingan tugas sesuai komitmen saya mengabdi untuk negara. Saya sudah disumpah siap untuk melaksanakan tugas kemuliaan negara. Tapi, kalau panggilan tugas dan kepentingan keluarga bisa dijalankan dalam waktu bersamaan, nggak salah
kedua-duanya dijalankan sekaligus.
Strategi militer yang baik itu, menurut Anda bagaimana?
Sejauh ini saya pakai prinsip spider net. Laba-laba, ia selalu berada di tengah atau pusat jaringnya. Begitu ada binatang lain yang menyenggol jaringnya, getarannya sampai ke si laba-laba yang berada di tengah. Ia pun langsung mendatangi binatang yang sudah terperangkap jaring.
Namun, kalau getarannya besar hingga menembus jaring, si laba-laba bergegas memperbaiki jaring yang jebol. Dalam strategi militer juga seperti itu, kalau ada ancaman yang bisa diselesaikan di kesatuan, diselesaikan di situ. Jika tidak, mungkin bisa meminta bantuan dari kesatuan lain dan bersama-sama menghadapinya.
Bagaimana cara Anda menghadapi anggota di lapangan?
Ada tiga hal yang harus diperankan seorang pemimpin. Pertama, bisa di depan, bisa di tengah dan bisa di belakang. Artinya, pada saatnya harus menjadi contoh di depan, baik dalam kesehatan fisik maupun dalam tugas. Kemudian, saatnya di tengah, kita akan menjadi penyeimbang. Kan tak mungkin kita di belakang terus, hanya meneriaki dari belakang. Kita bilang “ayo-ayo” sementara kita berdiri saja di belakang. Jadi pemimpin itu harus bisa memberi contoh teladan, mengajari dan melakoni. Kita juga harus bisa membangkitkan semangat para anggota. Kalau jadi komandan gampang. Komandan berasal dari commander artinya pemberi perintah. Karena dia punya otoritas, dia bisa memerintah. Konsekuensinya, yang nggak ikut perintah diberi sanksi.
Tapi kita kan nggak mesti harus jadi komandan saja, tapi juga harus jadi pemimpin. Dasar-dasar kepemimpinan itu antara lain takwa, memberi contoh, sederhana, disiplin, waspada, bertindak
dan berpikir cepat, mengutamakan skala prioritas, tanggung jawab dan legowo. Legowo menerima ketika ada rotasi atau mutasi. Kita nggak mungkin berdiam diri di satu jabatan itu. Manakala ada kader pengganti yang lebih baik, kita harus legowo.
Di TNI, kaderisasi komandan hanya berada di tamatan Akmil atau Akabri saja. Benarkah ini menjadi tradisi?
Sebenarnya nggak juga. Ada beberapa kriteria dalam jabatan komandan. Bisa saja dilihat secara psikologi, apakah layak atau tidak. Banyak kriteria di antaranya intelektual, kemampuan memimpin dan lainnya. Memang ada yang dari kopral sampai Kolonel dan pengalamannya juga banyak, namun tidak menjadi komandan. Masalahnya ia terbentur umur. Sedangkan yang dari Akabri atau Akmil lebih muda-muda.
Di sini (Yonkavser/IV) ada kopral yang sudah belasan tahun dan pengalamannya banyak, namun
pengalamannya itu hanya sebatas pengalaman dalam tugas Kopral, tidak dalam tugas komandan.
Kalau ada imej yang menyatakan tongkat komandan dipegang Akabri atau Akmil, nggak salah. Memang, Akabri atau Akmil untuk memimpin. Kan ada persyaratan menjadi komandan, seperti umur 44 tahun dan berpangkat Mayor. Banyak memang yang berpangkat mayor, tapi usianya sudah lewat. Ada pendidikan yang harus ditempuh untuk menjadi seorang komandan, seperti Suslapa, Seskoad, Sesko TNI dari tiga angkatan dan Lemhanas. Selain itu, ada pendidikan kejuruan khusus lagi seperti Sesdanrem, Sesdanyon dan lainnya.
Sebagai komandan dan pemimpin, bagaimana Anda bersikap terhadap anggota yang melakukan kesalahan atau desersi?
Sebelum bertindak, kita harus tahu penyebab ia desersi atau berbuat salah. Belum tentu ia murni berbuat salah. Bisa jadi ia salah karena kita tidak mengingatkan atau tidak menegurnya. Contoh, kalau ada yang desersi, aturan mainnya desersi 21 hari harus menerima hukuman. Tapi, itu tidak menyelesaikan masalah, manakala ada kesempatan ia desersi lagi. Kita harus cari tahu mengapa dia desersi, mungkin saja karena berutang untuk membiayai orangtua atau istri dan anaknya yang sakit. Dia tak berani pinjam di koperasi karena komandan pasang wajah seram. Jadi, demi keadilan kita harus tahu akar masalah baru mengambil tindakan terhadap anggota.

Daftar Riwayat Hidup
Nama : Drs. Yotanabey Aryantho Mulkan, MDS
Tempat/tgl Lahir: Cimahi, 13 Januari 1967
Agama: Islam
Nama Istri : Tati Susilowati SE. Ak
Nama Anak – Faizal Prabowo Aryantho
– Amalia Khaerunissa Nabilah
– Muhammad Faadhillah Aryantho
Alamat : Kompleks Batalyon Kavaleri 6 Serbu Medan
Penugasan: – DANTON YONKAV-3/SERBU DAM V/ BRW
– PASI 2/OPS YONKAV-3/SERBU DAM V/BRW
– DAKIKAVBU 34 YONKAV-3/SERBU DAM V/BRW
– PABUNG UDARA YONKAV-3/SERBU DAM V/BRW
– GUMIL GOL VI DEPTIKSTAF PUSDIKKAV
– DANSATDIKTA PUSDIKKAV
– DANDENKAVSER PASPAMPRES
– KABAGDIK RINDAM XVII/TRIKORA
– PGS. PABANDYA PUANTER STERDAM XVII/TRIKORA
– PABANDYA JIANBANG STRAOPS SDIRJIAN BANGSESKOAD
– DANYONKAV 6 SERBU
– DANDIM 0201/ BS KODAM I/BB

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.